fbpx

Kapolda Di Gugat Rp. 3 Miliar

Jakarta -Denny Adrian Kusdayat  Seorang advokat yang menggugat Kapolda Metro Jaya  Inspektur Jenderal Gatot Eddy Purnomo Rp3 miliar meminta supaya Polda Metro jaya dan Direktorat Lalu Lintas Polda Metro mencabut surat tilang elektronik yang diberikan kepadanya.

Menurut Denny, Polda Metro Jaya tidak dapat membuktikan jika tuduhan pelanggaran yang ditudingkan padanya. Padahal kendaraannya saat itu dikendarai oleh Mahfudi yang merupakan saudaranya. Denny mengatakan itu saat membacakan kesimpulan pada sidang gugatan yang berlangsung Kamis (15/8) di Pengadilan Negeri Jakarta Selatan.

“Termohon keliru di dalam jawaban yang menguraikan permohonan pemohon tidak lengkap dan kabur, justru harusnya termohon mengerti bahwa dalam menetapkan pemohon sebagai terduga pelanggar lalu lintas harus dapat dibuktikan terlebih dahulu oleh termohon (Kapolda Metro Jaya),” ujarnya Denny seperti yang di kutip dari CNN Indonesia.

Denny menjelaskan dalam surat tilang tertulis “Sehubungan dengan rujukan tersebut diatas dan berdasar bukti hasil rekaman CCTV E-TLE pada hari Rabu tanggal 17 Juli 2019 pukul 17.45.57 WIB di lokasi JPO Kemayoran RB-CP Nopo/NKRB B1440SJY, Saudara diduga telah melakukan pelanggaran lalu lintas jalan…”.

Dia mengkritik kata-kata terduga. Pasalnya terduga dalam kamus hukum sama juga dengan tersangka dan juga Denny meminta supaya Polda Metro Jaya memperlihatkan rekaman CCTV untuk diputar di persidangan.

“Memerintahkan kepada Termohon untuk menghentikan penyidikan pelanggaran lalu lintas yang dituduhkan pada Pemohon, dan memerintahkan termohon untuk memulihkan nama baik pemohon,” tuturnya.

Sementara itu, Polda Metro Jaya yang diwakili kuasa hukumnya AKBP DR Nova Irone Surentu mengatakan seharusnya Denny memberi konfimasi dan Nova menilai gugatan Denny dengan praperadilan itu tidak tepat. Seharusnya.

“Ini bukan ranah praperadilan pelanggaran itu dan tidak melalui proses penyidikan, kalau dia bilang melalui penyidikan kapan kita mulai penyidikannya, ini hanya konfirmasi saja, mengkonfirmasi saja kepada yang bersangkutan,” tuturnya.

Dalam persidangan, kata Nova, Denny sudah mengakui jika kendaraan itu benar miliknya dan di saat jam dan waktu tilang yang terjadi itu mobilnya sedang dikendarai oleh saudara iparnya.

“Dia mengakui benar pada tanggal sekian saudara iparnya yang gunakan kendaraan itu dan pada waktu itu sistem ganjil-genap,”tuturnya.

Denny diduga telah melanggar aturan lalu lintas soal kendaraan roda empat yang boleh melintas di kawasan ganjil genap pada 17 Juli 2019. Denny pun melakukan gugatan ke PN Jaksel.

Nova mengatakan gugatan terkait tilang e-tle ini baru yang pertama kali dilakukan. Padahal dari segi Undang-Undang dan sosialisasi sudah cukup jelas ke masyarakat.

Bagikan

Get real time updates directly on you device, subscribe now.

Comments are closed.