fbpx

Apotik di Kotamobagu Dilarang Jual Obat Berbahan Ranitidin, Ini Sanksinya!

Masyarakat diminta melapor jika ditemukan

KOTAMOBAGU– Masyarakat Kota Kotamobagu diimbau agar lebih berhati-hati dalam mengonsumsi obat-obatan berbahan Ranitidin. Menurut Kepala Dinas Kesehatan (Dinkes) Kotamobagu Ahmad Yani Umar, obat tersebut dapat memicu penyakit kangker.

“Diimbau kepada seluruh masyarakat agar dapat berhati-hati dalam mengonsumsi obat- obatan ini. Sebab, obat jenis ranitidin ini dapat menyebabkan kanker,” imbuh Yani, Senin (14/10/2019).

Selain itu, Yani juga melarang tiap Apotik dan tempat praktek yang ada di Kotamobagu agar tidak menjual obat tersebut.

“Kalau ada yang melanggar ketentuan ini, maka apotiknya akan ditutup dan penanggung jawab apotik itu akan diperiksa oleh BPOM. Selain apotik, tempat praktek para dokter pun akan dicabut ijin serta STR nya,” tegasnya

Untuk itu, Yani minta agar masyarakat melapor jika menemukan obat tersebut di apotik. “Jika masyarakat menemukan ada penjual obat tersebut di apotik, maka silahkan dilaporkan,” tandasnya

Sementara itu, Berdasarkan siaran resmi BPOM, perintah penarikan sejumlah produk obat Ranitidin itu berawal dari peringatan US Food and Drug Administration (US FDA) dan European Medicine Agency (EMA).

Pada 13 September 2019, lembaga pengawas obat di AS dan Eropa itu mengeluarkan peringatan tentang temuan cemaran N-Nitrosodimethylamine (NDMA) dalam jumlah relatif kecil pada sampel produk obat yang mengandung bahan aktif Ranitidin.

NDMA merupakan turunan zat Nitrosamin yang dapat terbentuk secara alami. Sementara menurut hasil studi global, nilai ambang batas cemaran NDMA yang diperbolehkan adalah 96 nanogram per hari. Jika dikonsumsi melampaui ambang batas itu secara terus-menerus dalam waktu yang lama, NDMA akan bersifat karsinogenik atau memicu kanker.

BPOM sempat menerbitkan informasi awal bagi Tenaga Profesional Kesehatan pada 17 September 2019 terkait keamanan produk obat Ranitidin yang tercemar NDMA. BPOM mengimbau perlunya prinsip kehati-hatian dalam meresepkan obat Ranitidin kepada pasien.

Selain itu, BPOM juga melakukan pengujian terhadap beberapa sampel produk obat Ranitidin. Hasil uji tersebut menyimpulkan sejumlah produk obat Ranitidin mengandung cemaran NDMA melebihi ambang batas normal.

Dengan dasar hasil pengujian itu, BPOM memerintahkan beberapa perusahaan farmasi menyetop produksi dan distribusi obat Ranitidin yang mengandung NDMA melampaui ambang batas. BPOM pun meminta produk-produk obat tersebut ditarik dari peredaran.

“Industri farmasi diwajibkan untuk melakukan pengujian secara mandiri terhadap cemaran NDMA dan menarik secara sukarela apabila kandungan cemaran melebihi ambang batas yang diperbolehkan,” tulis BPOM di dalam siaran resminya. Dilansir dari Tirto.id

BPOM menyatakan pengujian untuk menyelidiki kandungan NDMA akan dilakukan terhadap semua produk obat Ranitidin yang beredar di Indonesia.

Bagikan

Get real time updates directly on you device, subscribe now.

Comments are closed.