fbpx

Hari Ini, Genap 15 Tahun Tsunami Meluluhlantakkan Aceh

  • Kotamobagu.online-Hari Ini, 15 tahun lalu menjadi menjadi tonggak sejarah paling memilukan sepanjang sejarah abad ini.

Bencana kemanusian, gempa dan tsunami menerjang Aceh, dan beberapa wilayah lain di berbagai negara.

Hanya ucapan Lailahaillallah, Allahuakbar…yang terdengar, dan semuanya menjadi kecil di hadapan-Nya tatkala air laut berwujud gelombang raksasa itu menyapu pesisir Aceh.

Dalam hitungan menit daerah pesisir pantai Banda Aceh, Aceh Besar, Aceh Jaya, Aceh Barat, Nagan Raya, Pidie, dan Aceh Utara luluhlantak rata dengan tanah.

Saat gelombang menggulung-gulung daratan itu datang, ada ratusan ribu orang kehilangan segalanya.

Suami kehilangan istri, istri kehilangan suami, atau sebaliknya anak-anaknya yang kehilangan orang tua, sahabat dan sanak saudara.

Semuanya merasa kehilangan, tak ada satu kekuatan pun mampu menghadangnya.

Hari itu, Aceh berduka, air mata membasahi bumi syuhada.

Anak-anak menjerit kehilangan orang tuanya, mereka menjadi yatim piyatu dalam hitungan menit.

Tidak hanya manusia, alam pun berduka, luluhlantak dalam sekejap, tumbuh-tumbuhan dan pepohonan meranggas.

Para ahli mendeskripsikan tsunami sebagai gelombang laut dengan periode panjang yang ditimbulkan oleh gangguan impulsif yang terjadi pada medium laut.

Gangguan impulsif ini bisa disebabkan oleh gempa tektonik, erupsi vulkanik atau land-slide (longsoran).

Kata ‘tsunami’ sendiri diadopsidari bahasa Jepang, sebuah negara yang kerap dilanda gelombang ini.

Kata tsu’ bermakna pelabuhan dan ‘nami’adalah gelombang. Istilah tsunami belum dikenal oleh masyarakat Aceh, tetapi gejala yang sama pernah dikenal oleh masyarakat kepulauan Simeulu (Samudera Hindia) dengan istilah seumong’.

Masyarakat Simeulu mewarisi tradisi nenek moyang mercka, lari ke tempat yang lebih tinggi tatkala gempa menggoyang bumi, walaupun gelombang tak kunjung menghantam pemukiman yang mereka diami.

Dalam literatur oseanografi fisik atau coastal engineering disebutkan bahwa gelombang tsunami adalah gelombang perairan dangkal (shallow water wave) karena nilai perbandingan antara kedalaman laut dan panjang gelombang tsunami lebih kecil dari 1/20.

Kecepatan penjalarannya dari pusat terbentuknya tsunami menunju pantai semakin berkurang akibat gugusan dasar laut yang semakin dangkal.

Akibatnya, tinggi gelombang di pantai dapat menjadi semakin besar karena adanya penumpukan massa air akibat penurunan kecepatan.

Ketika mencapai daerah pantai, gelombang itu naik ke wilayah daratan dengan kecepatan yang berkurang menjadi sekitar 25-100 km per jam.

Kecepatan sebesar ini bisa menghancurkan kehidupan di daerah pantai. Dataran rendah pun bisa jadi tergenang membentuk lautan baru.

Kembalinya air ke laut setelah mencapai puncak gelombang bisa menyeret segala sesuatu kembali ke laut.

Daya hancur tsunami luar biasa, apalagi apabila dilihat dari kemampuannya menjalar banyak wilayah dan menimbulkan kehancuran pada wilayah-wilayah tersebut.

Tsunami yang berasal dari gempa tektonik yang berpusat di samudera Hindia itu bahkan mengimbas pula setidaknya tujuh negara; Malaysia, Thailand,Maladewa, India, Somalia, Srilangka, dan Myanmar.

Menurut ahli geologi dan berdasarkan data yang terekan pada stasiun pengamat pasang surut yang dikumpulkan oleh lembaga International Tsunami Center, gelombang yang ditimbulkan oleh tsunami Aceh benar-benar teramat dahsyat, dan merambah jauh hingga India, Malaysia, Thailand, Slandia Baru, Meksiko, dan Rusia.

Gelombang tsunami yang ditimbulkan oleh gaya impulsif ini bersifat transient, yakni gelombangnya bersifat sesar. Gelombang seperti ini berbeda dengan gelombang lain pada laut yang bersifat kontinyu, seperti gelombang laut yang ditimbulkan oleh arus angin atau gelombang pasang surut yang ditimbulkan oleh gaya tarik benda angkasa.

Periode gelombang angin hanya kurang dari 20 detik, sementara, periode gelombang pasang surut antara 12-24 jam, sedangkan periode gelombang tsunami berkisar antara 10-60 menit.

Gelombang yang disebabkan oleh arus angin hanya menggerakkan air di bagian atas, sedangkan gelombang tsunami menggerakkan seluruh kolom air dari permukaan hingga dasar laut.

Secara fisik diyakini bahwa kapal yang melintasi kawasan gelombang itu tidak akan merasakan fenomena alam tersebut, tidak mengalami goncangan, dan tidak pula terintimidasi oleh potensi bahaya yang ditimbulkan.

Berbeda dengan kenyataan yang dialami para nelayan yang berada di lepas pantai perairan Aceh saat tsunami terjadi, kapal boat mereka ikut terombang ambing oleh gelombang besar itu

Bagikan

Get real time updates directly on you device, subscribe now.

Comments are closed.