fbpx

Dasyatnya Tsunami Aceh di Penghujung 2004, 130 Ribu tewas, 37 Ribu Hilang, 572 Rumah Lenyap

Kotamobagu.online– Di pengujung tahun 2004, tepatnya pada Minggu 26 Desember 2004 sekitar pukul 08.30 WIB, sepanjang 800 km wilayah pesisir barat Aceh luluhlantak oleh gelombang tsunami setelah beberapa saat sebelumnya diguncang gempa dahsyat berkekuatan 9 SR.

Lebih dari 132.000 jiwa dinyatakan meninggal dunia, 37.000 jiwa dinyatakan hilang, dan 572.000 jiwa kehilangan tempat tinggal, serta ratusan linier meter arsip hilang atau rusak.

Bencana ini merupakan bencana alam terbesar di Indonesia sejak meletusnya Gunung Krakatau pada tahun 1883.

Di beberapa tempat, sawah ladang hijau berubah menjadi lautan, dan pemukiman hancur  berantakan.

Menurut cacatan lembaga United Nation Informasion Center, kerugian terbesar akibat impasan gelombang tsunami adalah di sektor perikanan.

Di sejumlah negara yang terkena tsunami, kerugiannya mencapai US$500 juta (kira-kira 4,6 triliun rupiah).

Angka itu termasuk sebanyak 111 ribu kapal hancur atau rusak, 36.000 mesin hilang, dan 1,7 juta peralatan perikanan rusak dan kerusakan terparah dialami oleh Aceh, Indonesia.

Demikian data yang dikutip Serambinews.com dari Buku Tsunami dan Kisah Mereka yang diterbitkan Badan Arsip dan Perpustakaan Provinsi Aceh.

Di luar catatan itu, fakta di lapangan menunjukkan banyak kerugian material lain yang tak terhitung jumlahnya diakibatkan hantaman tsunami.

Dalam waktu tujuh menit, kota-kota di sepanjang pesisir Aceh, termasuk Banda Aceh sebagai ibukota provinsi, menjadi lautan yang dihiasi mayat dan puing-puing bangunan.

Bahkan, 90 persen komunitas masyarakat pesisir dan prasarana perikanan di lokasi bencana hancur porak poranda.

Semua perkampungan nelayan seperti Uleelheu, Deah Raya, Lamteungoh, Lampuuk, Kahju, Alue Naga, dan Lampulo di Banda Aceh; Padang Seurahet di Meulaboh; Krueng Mane di Aceh Utara; Pante Raja di Pidie, tak lagi punya wujud.

Di sini tak ada bangunan yang tersisa. Semua rata dengan tanah. Para nasib pembudidaya tambak juga tak kalah memprihatinkan.

Sekitar 500 hektare tambak udang dan ikan hancur binasa. Selain tambak, fasilitas perikanan lain yang berada di berbagai pesisir Aceh juga rusak diterjang tsunami. Kerusakan di kawasan pesisir ini  emang sangat menyedihkan.

Akibat dorongan ombak yang begitu kuat dan dahsyat, Kota Banda Aceh, Kota Meulaboh, Kota Calang, dipenuhi bermacam sampah, puing-puing reruntuhan, kayu, pepohonan, dan sampah material lainnya.

Dampak lain yang ditimbulkan oleh tsunami adalah terjadinya perubahan struktur bumi, yaitu naik-turunnya daratan Aceh.

Berdasarkan survei yang dilakukan oleh International Tsunami Survey Team di Pulau Simeulu, diperoleh fenomena naiknya daratan di pesisir barat Simeulu mencapai 1,5 m sepanjang 1 km.

Sebaliknya di Meulaboh, Calang, kawasan persawahan, kebun, dan ladang, telah berubah menjadi lautan.(*)

Bagikan

Get real time updates directly on you device, subscribe now.

Comments are closed.