fbpx

Wajah Baru Kota Palu Sulteng Pasca Bencana

Palu kuat Palu bangkit, kalimat ini sebagai motivasi bagi warga Kota Palu, Sulawesi Tengah, untuk segera bangkit setelah diterpa musibah bencana gempa, tsunami dan likuefaksi 28 September 2018.

Motivasi agar tidak larut dalam keterpurukan itu, Pemerintah Kota Palu melalui APBD dan bantuan dari berbagai pihak melakukan perbaikan -perbaikan infrastruktur jalan dan fasilitas umum sebagai upaya pemeritah setempat membangkitkan kembali perekonomian masyarakat dan pendapatan daerah.

Membuka kembali tempat wisata jadi salah satu program yang dilakukan pemerintah dalam memulihkan pendapatan warga pascabencana. Perlahan tapi pasti, program tersebut sudah memperlihatkan hasilnya.

Selain sudah membuka peluang bagi masyarakat untuk membangun kembali usaha sebagai mata pencaharian, juga membangkitkan sikap optimistis warga jika Pemerintah Kota Palu di bawah duet kepemimpinan Hidayat- Sigit Purnomo Said alias Pasha Ungu, konsisten dengan semangat Palu Kuat Palu Bangkit. Jabal Nur Taman Kota merupakan salah satu program dalam membangun kembali perekonomian di Kota Palu, Sulawesi Tengah.

Pasca bencana tsunami yang terjadi di wilayah pesisir Pantai Talise, Kecamatan Palu Timur, banyak masyarakat yang sebelumnya menggantungkan hidupnya untuk berjualan di sekitar pantai menjadi lumpuh.

Hal inilah yang sempat dirasakan Hardiana (45). Pascabencana, ia dan keluarganya kesulitan untuk membangun kembali usahanya. Bahkan hampir 7 bulan, pendapatan Hardiana dan keluarga lumpuh total.

Kata Hardiana, keluarganya mendapat bantuan dari pemerintah untuk menempati cafe yang dibangunkan oleh Badan Usaha Milik Negara (BUMN) di bukit Jabal Nur Taman Kota.

Perempuan satu anak ini merasa beruntung karena pemerintah mau memperhatikan korban bencana agar tetap punya pendapatan.  “Cafe kami dan rumah kami habis terkena tsunami dan kalau berpikir untuk bangun usaha ya berat karena pendapatan tidak ada, rumah juga tidak ada lagi,” kata Hardiana.

Meskipun pendapatan Hardiana tidak seperti di cafe sebelumnya, setidaknya dapat membantu untuk memenuhi kebutuhan sehari-hari. “Pendapatan dulu sampai Rp1.500.000 satu malam, sekarang paling banyak Rp800.000 kecuali malam minggu,” sebutnya.

Hardiana memulai usahanya kembali usai relokasi dan pembangunan cafe selesai, yakni pada Juli 2019. Hardiana mengaku masih kesulitan untuk mendapat pelanggan mengingat cafe yang dibangun tidak sedikit. “Kendala sekarang itu, tapi sudah risiko berjualan,” ujar Hardiana.

Wajah cafe-cafe yang direlokasi dari pesisir Pantai Talise ke Jabal Nur Taman Kota memang berbeda. Tanah gersang dan hutan kota yang dulunya kering, kini disulap menjadi tempat santai dengan dipenuhi lampu kerlap kerlip berwarna warni.

Walaupun bukan berada di pinggir pantai lagi, suasana puluhan cafe yang berjejeran dibuat seakan-akan pengunjung berada di pinggir pantai.

Keamanan, kebersihan maupun lampu penerangannya pun tidak diragukan lagi. Semuanya sudah dilengkapi berserta dengan fasilitas umum.

Apalagi, keadaan yang dulunya sepi sekarang tidak lagi karena hadirnya Taman Kota yang dibangun sebagai tujuan kunjungan masyarakat di tengah kota.

Taman kota pun dilengkapi dengan jalur untuk masyarakat berolahraga, fasilitas olahraga pun disediakan.

Justeru pemerintah semakin meningkatkan pengunjung di taman kota dengan menghadirkan kampung durian. Semua pedagang durian yang sebelumnya berjualan di Jalan Moh Hatta dan di Pantai Talise, direlokasi ke taman kota.

Menambah keindahan taman kota yang sebelumnya gersang, dihadirkan juga ajang wisata instagramable untuk pengunjung mengabadikan momen bersama keluarga.

Semuanya disatukan di taman kota agar masyarakat dapat menjangkau tempat wisata di tengah kota yang nyaman.

Kumparan.com

Bagikan

Get real time updates directly on you device, subscribe now.

Comments are closed.